Electricity…Electricity…
Yah ,
kemunculan jaringan tenaga listrik sering di sebut-sebut sebagai tanda kemoderenan. Bagaimana tidak,
kemunculan tenaga listrik bagi masyarakat seperti kampung kita saribudolok
silimakuta telah merubah perilaku tradisional sebelumnya yang mengandalkan penerangan
dari lampu teplok, lampu minyak rakitan, obor hingga pada lilin. Dalam hal
sumber energi pun begitu. Dulu kita kita memasak memakai kayu bakar, mencucuci
di aek cina dan aek harangan, manual dengan tangan dan sabun batangan cap telfon.
Perangkat hiburan radio dan tv pun muncul dengan sumber tenaga aki yang harus
di recycle/di isi kembali di HORASMA.
Kiranya
tak perlu saya tuliskan , bagaimana listrik sangat berpengaruh akut bagi semua
manusia dan tentunya par Sardolok-silimakuta. Dan tak perlu di jelaskan
beberapa banyak perangkat elektronik baru yang mengandalkan sumber listrik
sebagai tenaga nya. Maka kita patut bersukur sama TULANG THOMAS ALPHA EDISON dan beberapa Makela, Kila, yang
mengeluarkan teori kelistrikan William
Gilbert, Joseph priestley, Charles De Coulomb, Ampere Michael Farraday,
Oersted, dll.
Di berbagai
Negara pun kemunculan listrik atau bahasa kerenya electricity ini juga merupakan terapan dari kemoderenan. Maka setelah
listrik ada , perkembangan pun semakin pesat , arus informasi menjadi cepat
seakan tak ada sekat jarak lagi. Seperti sekarang ini.
GENERASI
YANG BERUNTUNG ?
Aku tidak
tahu aku harus beruntung atau tidak sebab saya lahir ketika listrik sudah ada
di kampung. Walau saat itu belum sepenuhnya menyala 24 jam. Dan beruntung juga
saya masih mengalami urusan cas-men cas batere aki di HORASMA. Jadi saya mengalami masa
transisi, dari listrik sudah konstan dan belum.
Ada
ke-asikan tersendiri,
bahwa ketika masa kecilku Televisi masih pake Aki dan biasanya hanya di miliki
oleh yang punya KODE atau beberapa
yang mempunyai ekonomi lumayan. Ini sebuah cerita, saat pertandingan Mike Tyson Vs Evander Holyfield
(pemenangnya) saya dan bebrapa teman harus bayar rp.100 (sekarang senilai 1
$) menontonya di televise tak
berwarna yang berjendela (kerai), dengan sudut pandang elevasi yang tidak
menguntungkan. Pendek cerita anak-anak banyak yang berada di kode hanya untuk
bisa menonton, dan itu sering di usir par kode sebab GOJOG
TUMANG (saya selalu ketawa ketika mendengar kata ini, walau di ucapkan oleh
siapa saja. Bahkan membaca tulisan ku sendiri. Hahahah).
Sekarang
sudah tidak terbilang lagi bagaimana ‘borosnya’ penggunaan tenaga listrik di
kampong. Buat TV, DVD,CD, Radio, LAmpu, Sanyo (sumur Bor), untuk cas HP, hingga
pada pakai Kulkas (wuih.. semua sayur mungkin beku, karena
sudah dingin bah ..grr..grrr). Ketergantungan kita sudah akut, bagaimana tidak jengkel jika
terjadi mati lampu Lang pitah Golap tapi lang be boi manonton, mar SMS –an,
Miskol, martandang borngin, marlajar dsb (YUTH…Tulangmu
par PLN?).
Sada Panorang…..
Ini pengalaman
seorang teman yang jauh yang baru pulang setahun kemarin. Atas kemudahan dan
kenyamanan kotanya menuntut ilmu (?jarang
mati lampu di
kota
)
terhadap perilaku sehari harinya, ia pulang ke kampong. Jelas sangat mencolok
bagaimana orang yang sekolah di
kota
dengan yang di kampong , baik dari segi pakaian maupun CARA BERGAYA (hahaha). Nah
matilah lampu. Ia kelabakan, jengkel, merasa sangat gelisah. Ia bersumpah
serapah, mengutuk-ngutuk. Apa sebab?
Kuharap ia
tak marah padaku (santabiii). Ia janji
meng-esemes haletnya di pulau
seberang. Berjanji mengabari sekali sehari lewat pesan singkat itu.nah, hp nya
low bat sewaktu di telp sang pacar Listrik
mati. Hidup sih sekitar 10 menit trus mati hingga setengah hari. Ia sangat
jengkel, melebihi jengkelnya parsardolok yang sudah setiap hari merasakanya.
(wahhh, siapa yang pantas.Semua pantas).
MATE LAMPU DI SARDOLOK
Perusahaan PLN sekarang sudah di privatisasi, artinya ada
jaminan public service di
sana
.
Artinya kita sebagai konsumen telah di lindungi undang undang. Namun seperti
yang sering di kritisi, PLN belum bisa menyelesaikan masalah klasik yaitu daya.
Padahal banyak sumber daya tenaga listrik di
Indonesia
yang berpotensi besar.(si gura gura misalnya yang dulu dianggap bias memenuhi
pasokan listrik di bagian
Sumatra
keseluruhan). Listrik di small city Saribudolok dan silimakuta ikut kebagian dampak.
Atas
buruknya kehadiran pengelolaan listrik di SARDOL (mati hidup lampu “tergantung
mood kali ya”) masyarakat tak habis akal. Setelah lelah bosan selalu menanya ke
PLN di harangan si Dua-Dua dan selalu di tanggapi dengan jawaban yang bias
bahwa ada pemadaman Bergilir (pemadaman bergilir kok ngak ada Pemberitahuan dan
lagi sesuka hati—>Untuk Vtoy! ini kadang berbeda dengan pemadaman yang ada
di daerah lainà bisa cek di situs PLN yang menampilkan daerah mana yang
akan di padamkan dan mulai jam berapa perkiraanya) mayarakat sardolok
silimakuta “berbesar Hati” menganggap ini menjadi tradisi yang sudah tradisi ,
jadinya sudah biasa. Dan mereka memiliki solusi lain, yakni memakai GENSET
namun tidak semua orang mampu membeli genset.
Solusi
Walau tertulis judul solusi dia atas, tulisan ini tidak
sedang menjelaskan bagaimana solusinya. Namun tetap berhubungan (saya bukan
pakar solusi atau sok suci). Dari berbagai alas an dan komentar yang pernah di
sampaikan pada forum ini, taulah kita bagaimana dampak pemadaman lampu PLN yang
misterius. Namun yang paling mengesankan sebagai alas an adalah bagaimana ANAK-ANAK GENERASI MUDA HARUS (SENANG-ini
kalau aku) TIDAK BELAJAR DI MALAM HARI ATAU MENGERJAKAN PR). Kalian bias bayangkan,
mati-mati listrik aja anak sardolok silimakuta sudah pada PINTAR-PINTAR, bagaimana kalau lamapu hidup minimal malam saja,
atau 24 jam sekalian. Sepintar apa mereka?
Hanya karena tak mau menjadi seseorang yang merasa asing di
kampong. Dan melihat ke belakang bagaimana kebanyakan pemuda yang merantau
untuk belajar di luar
sana
hingga mendapat domisili baru adalah pantas kiranya sebelum kita menemukan new
place itu semacam refleksi atas apa yang kita dapat di kampong . yang kita dapat
dari orang tua, guru, sanina dlllll yang tinggal di kampong. Dan tidak semua
mampu survive menyiasati mati lampu
ini seperti membeli GENSET (MASIN
SANYO).
AH SUDAH TERLALU PANJANG. AKU MERINDU KARENA JARAK