ini semacam comen terakhir tentang “TEMPAT FAVORIT”

March 29th, 2008 by saribudolok


ini semacam comen terakhir tentang "TEMPAT FAVORIT". tidak terasa waktu terus berjalan ya. Saribudolok kecamatan silimakuta. daerah ini tidaklah begitu besar dan jauh jaraknya. saribudolok di batasi di puskesmas rumah sakit atau bioskop lama di sebelah timur. kantor PLN di sebelah barat, kampung kasemak dan dalan nanggaraja di sebelah utara, sardolok atas alias sartas dan  SMP 2 di sebelah selatan. (maaf kalau arahnya kurang tepat). ada semacam ruang administratif seperti kelurahan saribudolok dan kecamatan silimakuta. dan wow walau dalam satu kelurahan masih ada pembagian yang lebih kecil lagi, ada par gangset, par jalan kartini, par jalan sutomo, par kampung kopi, par jalan kabanjahe, par kampung toba, par kampung kasemak, par sidoba, par betesda, par jalan situnggaling, par..dan par yang lain. tapi kalau di ukur , tidaklah begitu luas cakupan perumahan penduduknya di saribudolok.

maka ketika tema yang ringan "TEMPAT FAVORIT"berjalan (tapi kurang banyak yang punya tempat fav) banyak hal yang bisa di evaluasi. bahwa ternyata kita ngak begitu gaul dan kebersamaan kita masih kurang.
sejujurnya hanya sedikit yang orang yang aku kenal di FS ini. mungkin karena berbeda usia (aku lihat banyak yang muda-muda).Bagi saya terutama , merasa begitu kurang, merasa begitu ceroboh di masa lalu tidak banyak mempunyai teman di sardol. beberapa comen yang aku lihat juga demikian, banyak yang tidak mengenal satu sama lain. hanya saja teman kita sekolah dulu pastilah kita kenal.

sekarang , kita telah ada di berbagai daerah di bumi ini. dan sebagai identitas kita adalah par sardolok atau paling tidak pernah tinggal di sardolok.aku ingat pertama aku bertemu par sardolok di kereta api jurusan bandung beberapa tahun yang lalu. semacam  apa ya. ketika bertemu itu mungkin perasaan ku seperti ia sedang kutunggu sejak lama. seperti teman lama yang kemudian kutemukan.( walau baru ku kenal sebab sudah jauh usianya di atas saya ). pendeknya ada sebuah keharuan bertemu teman sekampung di tempat yang jauh dari kampung.

nah sekarang baru aku tahu.bagaimana saribudolok dan aku dan orang lain par sardolok. maka aku pun teringat lagi bagaimana anak-anak saribudolok lainya yang bersekolah di luar, semenjak lama , jarang ada yang kembali. aku tak tahu alasanya. tapi yang jelas aku merasa gagal dan terlalu sombong menjadi par sardolok jika temanku par kota-kota besar bersama kumpulanya selalu mempunyai keinginan untuk memikirkan daerahnya. ah entah lah.. terlalu kecil sardolok untuk di banggakan di sombongkan dan di margaya-gayakan .atau tak ada yang mau membanggakan?

Last Coment:Electricity PLN dsb

February 19th, 2008 by saribudolok

Electricity…Electricity…

Yah ,
kemunculan jaringan tenaga listrik sering di sebut-sebut sebagai tanda kemoderenan. Bagaimana tidak,
kemunculan tenaga listrik bagi masyarakat seperti kampung kita saribudolok
silimakuta telah merubah perilaku tradisional sebelumnya yang mengandalkan penerangan
dari lampu teplok, lampu minyak rakitan, obor hingga pada lilin. Dalam hal
sumber energi pun begitu. Dulu kita kita memasak memakai kayu bakar, mencucuci
di aek cina dan aek harangan, manual dengan tangan dan sabun batangan cap telfon.
Perangkat hiburan radio dan tv pun muncul dengan sumber tenaga aki yang harus
di recycle/di isi kembali di HORASMA.

Kiranya
tak perlu saya tuliskan , bagaimana listrik sangat berpengaruh akut bagi semua
manusia dan tentunya par Sardolok-silimakuta. Dan tak perlu di jelaskan
beberapa banyak perangkat elektronik baru yang mengandalkan sumber listrik
sebagai tenaga nya. Maka kita patut bersukur sama TULANG THOMAS ALPHA EDISON dan beberapa Makela, Kila, yang
mengeluarkan teori kelistrikan William
Gilbert, Joseph priestley, Charles De Coulomb, Ampere Michael Farraday,
Oersted,
dll.

Di berbagai
Negara pun kemunculan listrik atau bahasa kerenya electricity ini juga merupakan terapan dari kemoderenan. Maka setelah
listrik ada , perkembangan pun semakin pesat , arus informasi menjadi cepat
seakan tak ada sekat jarak lagi. Seperti sekarang ini.

 

GENERASI
YANG BERUNTUNG ?

Aku tidak
tahu aku harus beruntung atau tidak sebab saya lahir ketika listrik sudah ada
di kampung. Walau saat itu belum sepenuhnya menyala 24 jam. Dan beruntung juga
saya masih mengalami urusan cas-men cas batere aki di HORASMA. Jadi saya mengalami masa
transisi
, dari listrik sudah konstan dan belum.

Ada

ke-asikan tersendiri,
bahwa ketika masa kecilku Televisi masih pake Aki dan biasanya hanya di miliki
oleh yang punya KODE atau beberapa
yang mempunyai ekonomi lumayan. Ini sebuah cerita, saat pertandingan Mike Tyson Vs Evander Holyfield
(pemenangnya) saya dan bebrapa teman harus bayar rp.100 (sekarang senilai 1
$)
menontonya di televise tak
berwarna yang berjendela (kerai), dengan sudut pandang elevasi yang tidak
menguntungkan. Pendek cerita anak-anak banyak yang berada di kode hanya untuk
bisa menonton, dan itu sering di usir par kode  sebab GOJOG
TUMANG
(saya selalu ketawa ketika mendengar kata ini, walau di ucapkan oleh
siapa saja. Bahkan membaca tulisan ku sendiri. Hahahah).

Sekarang
sudah tidak terbilang lagi bagaimana ‘borosnya’ penggunaan tenaga listrik di
kampong. Buat TV, DVD,CD, Radio, LAmpu, Sanyo (sumur Bor), untuk cas HP, hingga
pada pakai Kulkas (wuih.. semua sayur mungkin beku, karena
sudah dingin bah ..grr..grrr
). Ketergantungan kita sudah akut, bagaimana tidak jengkel jika
terjadi mati lampu Lang pitah Golap tapi lang be boi manonton, mar SMS –an,
Miskol, martandang borngin, marlajar dsb (YUTH…Tulangmu
par PLN
?).

 

Sada Panorang…..

Ini pengalaman
seorang teman yang jauh yang baru pulang setahun kemarin. Atas kemudahan dan
kenyamanan kotanya menuntut ilmu (?jarang
mati lampu di

kota

)
terhadap perilaku sehari harinya, ia pulang ke kampong. Jelas sangat mencolok
bagaimana orang yang sekolah di

kota

dengan yang di kampong , baik dari segi pakaian maupun CARA BERGAYA (hahaha). Nah
matilah lampu. Ia kelabakan, jengkel, merasa sangat gelisah. Ia bersumpah
serapah, mengutuk-ngutuk. Apa sebab?

Kuharap ia
tak marah padaku (santabiii). Ia janji
meng-esemes haletnya di pulau
seberang. Berjanji mengabari sekali sehari lewat pesan singkat itu.nah, hp nya
low bat sewaktu di telp sang pacar  Listrik
mati. Hidup sih sekitar 10 menit trus mati hingga setengah hari. Ia sangat
jengkel, melebihi jengkelnya parsardolok yang sudah setiap hari merasakanya.
(wahhh, siapa yang pantas.Semua pantas).

 

 

 

MATE LAMPU DI SARDOLOK

 Perusahaan PLN sekarang sudah di privatisasi, artinya ada
jaminan public service di

sana

.
Artinya kita sebagai konsumen telah di lindungi undang undang. Namun seperti
yang sering di kritisi, PLN belum bisa menyelesaikan masalah klasik yaitu daya.
Padahal banyak sumber daya tenaga listrik di

Indonesia

yang berpotensi besar.(si gura gura misalnya yang dulu dianggap bias memenuhi
pasokan listrik di bagian

Sumatra

keseluruhan). Listrik di small city Saribudolok dan silimakuta ikut kebagian dampak.

Atas
buruknya kehadiran pengelolaan listrik di SARDOL (mati hidup lampu “tergantung
mood kali ya”) masyarakat tak habis akal. Setelah lelah bosan selalu menanya ke
PLN di harangan si Dua-Dua dan selalu di tanggapi dengan jawaban yang bias
bahwa ada pemadaman Bergilir (pemadaman bergilir kok ngak ada Pemberitahuan dan
lagi sesuka hati—>Untuk Vtoy! ini kadang berbeda dengan pemadaman yang ada
di daerah lain
à bisa cek di situs PLN yang menampilkan daerah mana yang
akan di padamkan dan mulai jam berapa perkiraanya) mayarakat sardolok
silimakuta “berbesar Hati” menganggap ini menjadi tradisi yang sudah tradisi ,
jadinya sudah biasa. Dan mereka memiliki solusi lain, yakni memakai GENSET
namun tidak semua orang mampu membeli genset.

 

Solusi

Walau tertulis judul solusi dia atas, tulisan ini tidak
sedang menjelaskan bagaimana solusinya. Namun tetap berhubungan (saya bukan
pakar solusi atau sok suci). Dari berbagai alas an dan komentar yang pernah di
sampaikan pada forum ini, taulah kita bagaimana dampak pemadaman lampu PLN yang
misterius. Namun yang paling mengesankan sebagai alas an adalah bagaimana ANAK-ANAK GENERASI MUDA HARUS (SENANG-ini
kalau aku) TIDAK BELAJAR DI MALAM HARI ATAU MENGERJAKAN PR).
Kalian bias bayangkan,
mati-mati listrik aja anak sardolok silimakuta sudah pada PINTAR-PINTAR, bagaimana kalau lamapu hidup minimal malam saja,
atau 24 jam sekalian. Sepintar apa mereka?

 

Hanya karena tak mau menjadi seseorang yang merasa asing di
kampong. Dan melihat ke belakang bagaimana kebanyakan pemuda yang merantau
untuk belajar di luar

sana

hingga mendapat domisili baru adalah pantas kiranya sebelum kita menemukan new
place itu semacam refleksi atas apa yang kita dapat di kampong . yang kita dapat
dari orang tua, guru, sanina dlllll yang tinggal di kampong. Dan tidak semua
mampu survive menyiasati mati lampu
ini seperti membeli GENSET (MASIN
SANYO).

 

AH SUDAH TERLALU PANJANG. AKU MERINDU KARENA JARAK

Surat Untuk PLN Pusat

February 13th, 2008 by saribudolok

Pesan ini tidak berbendera. [ Tandai Pesan dengan Bendera - Tandai sebagai Pesan Belum Dibaca

]

Tanggal: Wed, 13 Feb 2008 21:51:53 +0700 (ICT)
Dari: "saribudolok huta" <kampungsaribudolok@yahoo.co.id>  Tambahkan ke Buku AlamatTambahkan ke Buku Alamat
Topik: Di sebuah Kampung, Listrik mati 20 kali sehari.
Kepada: pengelolaweb@pln.co.id

                      

Saribudolok,12 Februari 2008

Kepada Yth.
Direktur PLN Pusat
di -tempat.

    "Dengan Hormat"
   
Sebelumnya saya sangat mengerti mengenai kekurangan daya PLN untuk bisa
menghidupkan jaringan listrik di seluruh indonesia. Dan di sebab kan
situs/website PLN wilayah sumatra yang tidak ada akses menyampaikan
informasi pelanggan maka saya mewakili Desa saribudolok kec silimakuta
kab. Simalungun -SUMUT merasa perlu memberikan sebuah keluh kesah
tentang pelayanan listrik di kec. saya.

   1. hampir dalam satu
hari bisa terjadi 10 kali pemadaman, terkadang bahkan   lebih. dan hal
itu menyebabkan perangkat elektronika, umumnya televisi mengalami
kerusakan. pemadaman nya pun termasuk sesuka-suka hati. hidup semenit
mati lagi setengah jam lalu hidup dua jam dst.
Namun hal yang paling
menyedihkan adalah bagaimana anak sekolah harus kembali pada tradisi
jaman dahulu. memakai lampu teplok atau semprong, lilin. dan hal itu
tidak baik demi kelancaran belajar mereka. selain itu masih banyak
kerugian yang di tanggung akibat mati hidup lampu PLN.

Apakah pemadaman yang sesuka hati seperti itu merupakan hal yang biasa?

perihal
mati hidup lampu ini sudah berlangsung sejak lama. dan masyarakat yang
umumnya petani sudah menganggap ini sebagai tradisi.

bukan berarti tidak ada upaya untuk menayakan pada PLN di kecamatan. namun jawabanya selalu klise, " beban arus terlalu besar"

   
Maka di sini kami mengharapkan PLN pusat agar mau memperhatikan hal
ini. terutama mengawasi PLN yang ada di daerah. dan harapan kami agar
pemadaman yang tak kenal waktu dan merugikan segera dapat di atasi PLN.
Karena dengan alasan apapun kami kira PLN tidak bisa sesuka hati
mematikan dan menghidupkan listrik sesuka-suka.
     Demikian surat keluhan ini kami sampaikan. Dan semoga bisa di tindak
lanjuti.

                                                                                                            Hormat kami,

                                                                                              Anak Rantau saribudolok

Tembusan
Anak rantau saribudolok silimakuta
kampungsaribudolok@yahoo.com
friendster.kampungsaribudolok.com
kepala desa saribudolok

KOL BUS DI MATA KU

February 1st, 2008 by saribudolok

KOL BUSUK (KOLBUS)
    Sebenarnya begitu lama aku menghilangkan istilah ini (atau terhilanglah) dari ingatan dan suatu kalimat familiar ketika di kampung dulu. tapi

untunglah ada bang Yusuf dan Lesni damanik yang mengingatkan pada testi.
    Dulu, Kolbus adalah bagian ke seharian, terutama yang rumahnya di jalan ke kampung kristen dan nanggaraja , atau yang rumahnya di dekat

gudang (lang uhur pamelahon :>) atau parjuma. setiap hari bau kolbus yang menyengat sudah biasa mungkin terhirup sampai sampai menjadi lupa

bahwa itu bau kolbus, seperti bau badan kita. Ini kenangan lagi ketika SD, saat menemani mamak hu tiga sayur karena umumnya anak yang mana pun

akan mau , karena setelah usai martiga-tiga pastilah diajak makan nasi campur, atau manuhor rondang, martabak,kue pancung, godok-godok , ect.      
    saat itu ada beberapa anak anak lain yang berada dekat ku, anak lelaki marsaluar sd buttas, yang sedang marguro-guro, marlikati hingga

pada permainan yang sedikit ekstrim yaitu lempar-melempar KOLBUS. pajak sayur menyediakan amunisi perang KOLBUS bekas minggu lalu yang sudah

ber.lendir. mungkin bekas kol yang tidak laku minggu lalu. saat itu memang harga kol jika kuingat bisa sampai 30 Rp / kg ( bayangin sekarang). Nah

waktu marguro-guro inilah , aku tak sengaja terlempar kolbus tepat di kepala oleh dakdanak nakkin ai (hutandai dope bana :0, hutandai tumang).

mela do nyan makkatahon i jon. mandoraki ma au i tonga tiga ai, bukan karena baunya memang, tapi karena sakit nya bah……aku ngak ingat

bagaimana reaksi orang, mungkin ada yang tar tabai, atau merasa kasian. tapi ada yang membuat aku diam yakni si pelaku di gotiki inang-inang i jai

dan sogokan karupuk jangek.
     Kalau sekarang KOLBUS menjadi kata-kata yang lucu ku dengar. seperti membaca coment nya bang yusuf ato kak lesli. mulutku langsung

nyiyir, tartabai.dan aku semacam ber imajinasi. bagaimana kalau saat besar seperti ini aku di lempar kol bus tepat di kepala, akankah aku seperti dulu

lagi, menangis karena sakit, atau karena bau dan malu. atau aku ingin si pelempar kolbus di gotiki inang inang i jai? hahahaha……
    beberapa waktu lalu aku pulang. walau tak kusus menyelidiki bau kolbus ,sesekali memang tercium bau itu, tapi tidak seperti dulu lagi.

hampir di setiap tempat yang di sebut di atas tadi bau kol bus, sekarang tidak.
    Memang kalau di kalatakan merusak suasana saya rasa ada benarnya, namun tidak begitu berbahayanya dengan sampah-sampah an

organika yang hingga kini kepedulian di kampung kita itu sangat kurang. berjalan jalan di kampung, bisa dikatakan kepedulian akan sampah belum ada.

artinya belum ada yang menggerakkan untuk bisa hidup bersih itu terlihat dari bagaimana perkembangan sardol tidak  di imbangi dengan perencanaan

tata lahan ( seperti GOT, TPA) , atau parhuta juga belum tergerak , karena dalam pikiran par huta memang masih hu juma.
    Jadi kalau Masalah Kol BUS , biar pun bau yang penting cuma kopeknya, dan terkadang dari situlah banyak parsardolok menghidupi biaya

dan pengeluaran, mungkin juga membiayai kuliah. (jadi jangan salah kuliah dengan kolbus ada hubunganya juga…hahahahah). mungkin kopek maupun

kolbus hanya perlu di kelola jika itu mengganggu penciuman, misalnya di jadikan pupuk organik, atau kalau di kota-kota besar di jadikan pakan ternak.
    KOLBUS_KOLBUS, ibarat emas yang bau.
   

Kabar Baru Dari Kampung

January 15th, 2008 by saribudolok

Angin menghembuskan jalanku ke kampung. betapa bahagia campur bertanya, jika pulang ke kampung. semacam ada harapan akan melihat perubahan-perubahan yang tak terikuti beberapa tahun ini.
pertama.
aek harangan sudah poron, halong… dan tak di fungsikan lagi. maka bisa di asumsikan para perempuan melakukan aktifitas MCK nya di kamar mandi rumah sendiri. jika aek cina, masih tetap seperti biasa, namun airnya tambah besar dan beberapa sawah di sana sudahj di tanami sayur parit. jika beruntung , pagi yang berkabut (sekitar jam 9 pagi) kau akan mendapati pemandangan yang indah dari sebuah bukit kecil di bagian timur Aek cina.
kedua.
mungkin suatu saat , horbo dan gareta yang menjadi transportasi utama jika ke ladang (karena biasanya jalan ke ladang begitu berlumpur) akan punah. saat saya di kampung sudaha tidak banyak lagi yang bergareta ke kampung. sebahagian memanfaatkan BECA Motor, dan sebahagian lagi sudah naik kendaraan pribadi.
ke tiga.
ada sebuah revolusi pertanian, terutama jenis tanaman utama di saribu dolok. ( untuk ini mohon mahasiswa IPB mau sekali kali menelitinya)  dimana petani saribudolok yang dulunya dikenal dengan petani utama sayur mayur, kol, tomat, buncis, sayur putih, cabe, dll kini telah berubah secara drastis menjadi petani utama KOPI ATENG. jelas untuk bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan yang kian banyak, petani lebih di untungkan dengan adanya kopi ATENG ini karena tak perlu modal banyak dsan perawatan seperti bertani sayur mayur. maka sudah barang tentu KOPI lebih menguntungkan.
empat..
mungkin kalian belum begitu mengerti sejarah saribu dolok yang kurang lebih ilmiah atau dapat di percaya. untuk ini pak camat akan membuat tulisan kusus nanti. dari beberapa sumber orang tua-tua di kode yang saya paksa mengingat sedikit sejarahnya terungkap banyak cerita yang menarik. saya menghabiskan lebih dari 50 gelas teh manis di berbagai sudut kode di sardol.
lima apa lagi ya…..?
oh ya, sardol sedikit aman, di simpang empat tidak ada lagi preman yang asal asalan. sekarang preman juga punya sedikit pemikiran bijak. preman yang ada hanya yang meminta uang pada Bus-Bus yang ngetem di Sardol. angka kejahatan mulai berkurang dan perjuadian sudah tidak seramai dahulu. tahun baru pantauan saya hanya dalam du a hari judi aktif di berbagai sudut saribu dolok. ini di sebabkan karena polisi sudah mulai tegas–> mudah mudahan bukan dadakan.
enam..
ternyata seperti kalian ini , banyak anak sardol yang bersekolah dan bekerja sukses di negeri orang. namun ini sebuah kritik, bahwa kita seperti tidak ada kepedulian lagi pada kampung kita itu. kepedulian lebih pada keluarga. u ntuk ini m,inta podah nya ya……………………..
tujuh ,
saya memotret beberapa foto singgalang plus beberapa tradisi kehidupan adat , mudah-mudahan nanti bisa aku kirim memlalui flirck.
delapan.
sudah di buka pasar sayur mayur yang baru di harangan si dua-dua. namun hingga lebih setahun pembanguananya , pajak baru itu belum beroperasional. pernah katanya ada acara motor cros di sana dengan harga tiket 20 rebu dan mmmm semuanya menonton. ini membuktikan kurang hiburan yang positif di kampung kita itu. silimakuta yang dulu meliputi tiga raja, naga saribu, mardidngding dll sudah pisah kecamatan menjadi kec silimakuta Barat dengan ivbu kota Tiga raja.
dan simalungun yang nantinya di mekarkan menjadi dua. simalungun induk ibukota Pem. Raya dengan Simalungun Hataran Ibukota Perdagangan.

apa lagi yaaaaaaaaaaaaaaa
ada yang mau nambahin yang baru pulang… tolong kirim ke sini ya, mulai dari foto atau tulisan

terima kasih

GBU
Camat Saribudolok

berita pemekaran Kab Simalungun

November 30th, 2007 by saribudolok

SIB 14 nov 2006

         
            

Medan (SIB)
Tim IX DPRD Sumut Dapem (daereh pemilihan Pematangsiantar - Simalungun)  menegaskan, pemekaran Kabupaten Simalungun menjadi dua kabupaten sudah harus disegerakan dmi mempercepat pembangunan, serta pertumbuhan ekonomi masyarakat dan daerah tersebut.
Penegasan ini diungkapkan Ketua Tim Dapem IX DPRD Sumut H Syahrul M
Pasaribu SH didampingi sekretaris dan anggota tim Azwir A Husin dan
Pangihutan Siagian kepada wartawan, Selasa (13/11) di DPRD Sumut
terkait hasil reses dan kunker (kunjungan kerja) tim Dapem IX
(Pematangsiantar dan Simalungun).
Disebutkan Syahrul, tim IX terdiri dari koordinator Japorman Saragih,
Syahrul Pasaribu (ketua), Azwir A Husin (sekretaris), Pangihutan
Siagian, Samsuddin Siregar dan Sahat P Situmorang telah menyerap
aspirasi masyarakat Simalungun yang mendesak agar pemekaran Kabupaten
Simalungun dipercepat.
Masalah pemekaran Kabupaten Simalungun, kata Syahrul yang juga Ketua
FPG DPRD Sumut ini, sudah dibicarakan dengan Bupati dan pimpinan DPRD
Simalungun yang memberi respon dan dukungan sepenuhnya.
“Bupati dan pimpinan DPRD Simalungun sudah oke. Panitia pemekaran
kabupaten Simalungun harus lebih gesit bekerja untuk bersinergis dengan
pimpinan daerahnya guna mewujudkan rencana pemekaran Simalungun. Jaka
sudah selesai proses dan persetujuan pemekaran di daerah, segera kirim
ke Gubsu dan DPRD Sumut. Kami tim dapem IX siap menyambut dan
memperjuangkannya,” ujarnya.
Diungkapkan juga, Kabupaten Simalungun direncanakan dimekarkan menjadi
dua kabupaten dengan ibukotanya masing-masing, yaitu Kabupaten
Simalungun (induk) ibukotanya Raya dan Kabupaten Simalungun Hataran
ibukotanya Perdagangan.
Karena itu, pemindahan ibukota Simalungun dari Pematangsiantar (saat
ini)ke Raya sudah harus disegerakan. “Masyarakat mendesak tahun 2008,
ibukota Simalungun harus sudah pindah ke Raya. Ini permintaan
masyarakat 7 kecamatan, saat reses ke Saribudolok,” ungkapnya.
Tim dapem IX juga menilai, pemekaran Kabupaten Simalungun sudah menjadi
prioritas untuk mengembangkan dan memajukan pembangunan Simalungun.
Demikian halnya potensi dua kabupaten hasil pemekaran sudah melampau
skor yang ditentukan peraturan maupun persyaratan pemekaran daerah.
“Kita yakini, sangat terasa percepatan pembangunan,jika Simalungun
dimekarkan, karena saat ini Simalungun sudah 31 kecamatan dan areal
maupun kependudukannya cukup luas. Sewajarnya Simalungun dimekarkan,”
tambah Syahrul. (M10/g)

gimana menurut hasoman-hasoman….

Sejarah Saribu dolok?–>hanya memindahkan

June 24th, 2007 by saribudolok

Sejarah Saribu dolok?
Sejauh ini tidak ada data sejarah
tentang kampung kita itu. bahkan dalam
sejarah kerajaan-kerajaan simalungun
pun SD tak tercantum (yang tercantum
hanya kerajaan raya,panei, purba, tanah
jawa,dll).
Namun dalam buku Sejarah Batak
karangan ?(lupa saat ini)Saribudolok
tercantum dalam halaman 231 yang
berbunyi kira kira "saribu dolok
menjadi salah satu afdeling perbatasan
(daerah kecamatan) pada masa kolonial
yang menghubungkan simalungun dan karo.
itu mungkin benar…
kalau rumah mu berada diantara jalan
merdeka—nanggaraja atau purbatua atau
jalan ke kaki bukit singgalang, mungkin
kalian pernah mengetahui dulunya ada
bangunan kolonial belanda dari kayu
dengan jendela jendela yang mengarah ke
gunung.sekarang tempat itu sudah tidak
ada karena sudah di bangun pasar sayur
mayur dan beberapa kios (sayang ya..)
sekarang ada yang tahu tidak sedikit
sejarah kampung kita nan dingin itu,
berdasarkan cerita oral dari orang tua
kita atau dapat baca-baca sedikit.
kalau ada tolong di informasikan.

maaf tidak berbahasa simalungun logat
saribu dolok, kali nanti kita mulai
dengan bahasa itu.